TARI KEHIDUPAN Ketika itu 10 hari menjelang LEBARAN, saya di datengi mas Yongki Irawan "bud....ada saudara seniman kita yang saat ini terbaring sakit, aku ingin ngajak 5 orang temen untuk berbagi tali asih minimal satu paket satu orang" kata mas yongky ketika itu. aku terhenyak mendengar gagasan itu " mas kenapa hanya 5 orang temen yang sampean ajak....ini kegiatan mulia mas, sampean share ke FB aku yakin banyak temen temen yang mau ikut berbagi" kataku dengan antusias "ah meneng menengan ae bud, ngko di gunem uwong " jawab mas Yongky "la lapo sampean mikir no guneme wong nganggur ....sing penting niat kita baik lek aku yo masa bodo" timpalku sengit. Alhamdulillah setelah kemudian di share ternyata tidak hanya 5 temen yang akhirnya mendapat kesempatan ikut berbagi tapi 1 Pick Up paket berhasil terkumpul. Tidak hanya itu puluhan relawan turun untuk membantu menyalurkan. Kami pun menyebar merata ke seluruh penjuru kota menemui saudara seniman yang kurang mampu. ketika ikut membagikan bingkisan hati dan pikiranku berkecamuk manakala melihat kondisi mereka dan akhirnya meledak sebuah kata " mas mereka ini LEGEND.......mereka harus di ANGKAT sam....kita harus bikin sebuah pagelaran CHARITY untuk MEREKA..." lalu hari hari pun terus berganti tak ada lagi pembicaraan yang berkaitan dengan dulur dulur seniman itu. Beberapa hari berlalu tanpa ada lagi pembicaraan tindak lanjut membuat pagelaran charity yang aku usulkan. Namun, tiba tiba di suatu siang mas yongky memberi kabar “bud, mas DIDIK NINI TOWOK tersentuh geliat kepedulian temen temen dan mau mensuport kegiatan charity kita. Selain itu juga ada temen LUDRUK LEROK ANYAR siap nyengkuyung piye ayo segera di realisasikan” Tidak sadar mataku berkaca kaca saat mas Yongki mengutarakan rencana pagelaran ludruk untuk charity................................................ MEMBUAT GRUP LUDRUK Suatu saat ada yang ad pertemanan di facebook, ternyata temen sepermainan ketika ku kelas 4 SD namanya Agus sunarto. dia menulis pesan " gak main ludruk lagi?" begitu aku membaca pesan itu aku terhenyak kaget dan senang karena tulisan pesan itu seperti mambawaku terseret pada lorong waktu masa kecilku. Pusaran waktu melayangkan tubuh dan anganku menyusuri file-file episode perjalanan masa kecil. bagaikan menonton sebuah film semua terpapar indah dalam benak ingatan. saat itu orang tuaku memiliki sebuah kombong ayam yang sudah tidak di pakai berukuran 5 x 10 m. Aku bersama teman teman sepermainan termasuk agus sunarto menyulap kombong ayam itu sebagai arena taman bermain yang mengasyikkan. Kira- kira di buat apa ya bekas kombong ayam itu? memikirkan hal itu di usiaku yang sekarang sudah 47 th merasa heran sendiri melihat kenyataan bahwa ketika kecil aku punya pemikiran merubah kombong ayam menjadi "gedung perunjukan ludruk" bentuknya sih jangan dibayangkan seperti gedung wayang orang barata yang ada dijakarta atau gedung gedung pertunjukan pada umumnya. ini adalah gedung versi anak kecil usia 4 th yang terbuat dari bekas kombong ayam yang di bangun dari bambu reot . tapi meski demikian layar dekor (geber yang biasanya terdapat di pertunjukan ludruk) sudah dihadirkan disitu meski terbuat dari karung bekas kemasan beras. ketika itu layar lapis pertama di hias dengan pemandangan alam gunung dan lapis ke dua di gambar dengan pohon pohon menggambarkan hutan dan kedua layar itu bisa ditarik ulur sehingga gambarnya bisa bergonta ganti persis seperti di pertunjukan ludruk. begitu panggung sudah terhias semua lalu kami memikirkan tempat untuk penonton. teman teman bekerja saling bahu membahu membuat tempat duduk penonton dengan memalangkan bambu bambu dalam bentuk memanjang. kemipun berlatih dengan bersusah payah meniru ceritera dan adegan ludruk persada yang biasa aku tonton di gedung balai desa dengan semirip mungkin. dengan diiring tabuahan dari berbagai kaleng bekas dan panci panci yang sudah berlubang pertunjukan kami sungguh sangat menyenangkan. lucunya begitu merasa percaya diri tontonanya bagus (kepedean hahaa) terpikir untuk meniketkan pertunjukan itu. Apa mungkin? ( hahaaaa dasar anak kecil) sesuatu yang tidak mungki itu ternyata jadi mungkin berkat kenekatan anak anak kecil itu mereka keliling kampung dengan bergaya seperti kuda lumping sambil menjual tiket ke anak anak kecil se usiannya. (ketika menulis ini aku jadi ketawa ketawa sendiri hahahahahaa) ternyat ada juga yang mau beli tiket untuk nonton hehee dan begitulah lalu pertunjukan pun berlangsung.... yang menjadi pertanyaan tontonan itu bagus apa tidak sampai sekarang belum ada jawaban yang bisa mengkonfirmasi hasilnya hahahaaaa. hari berikutnya pun berulang seperti kemarin dan pertunjukan berlangsung ...yang jelas sungguh indah masa kecil untuk dikenang. Kenakalan masa kecil Hari ini 1 juli 2017, masih dalam suasana lebaran idul fitri. Aku bagaikan mendapatkan hadiah album keramat yang menyeret akal khayalku kedalam pusaran masa lalu yang indah tak tergantikan. Lembar demi lembar aku buka. Segala rasa seakan bergolak melambungkan angan kedalam mega mega. Setiap jejak kaki seakan terlihat jelas ayunan langkah memijak tapak demi tapak. Dalam khayal dan anganku aku melihat tapak tapak penuh warna berjajar memenuhi ruang jalan memori. Ada merah ,kuning, hijau, ,biru, jingga,kelabu hingga hitam yang kelam. Lembar album itu bermula ketika aku mendapat kunjungan sahabat saat sekolah TK dan SD hingga SMP bernama Pipiet dan Tholib. Segala cerita masa kecilku pun mengalir tak terbendung . “kamu dulu itu kuecillll, menthik dan mbethik pol lho bud” ucap pipiet membuka percakapan. Aku tersipu malu. “mosok sih pietttt” jawabku sambil tertawa. Seandainya kulitku putih pasti pipiku akan kelihatan merona. Apalagi istriku yang juga ikut nimbrung dalam percakapan ikut tersenyum. Sementara ke dua anakku sedang asyik bermain game dekat ruang tamu. Aku berdoa agar anakku fokus dalam bermain agar tidak mendengar percakapan kami. “bener bud...kamu waktu TKdulu suka ngganggu anak anak perempuan bermain...dan ingat nggak? Kalau aku dulu pernah menangis karena kamu gigit” kata pipiet nyerocos membuat aku tertawa meledak. “ saking nakalnya, mbak “ kata pipiet kepada istriku “ Waktu TK budi ini tidak lulus. Pada saat kelulusan, siswa yang lulus di giring berjalan berbaris menuju sekolah SD . sementara budi yang tidak lulus mencegat barisan di depan rumahnya sambil nangis gulung koming sambil melempari kami karena tidak lulus” tawaku semakin meledak tak tertahan. Peristiwa yang sudah lama sekali itu seperti kembali menari di pelupuk mataku . waktu itu aku menangis sambil berguling guling di tanah minta di luluskan dan masuk sekolah dasar. . Aku menangis protes sejadi jadinya kepada kakekku karena aku tidak lulus dan minta agar dimasukkan sekolah SD. Namun tidak ada jawaban yang bisa membuatku lega hingga aku mengamuk lari kehalaman mencegat temen temen ku berbaris menuju SD yang arah jalannya melewati rumahku. Sambil menangis sejadi jadinya aku berusaha melempari temen temenku tapi sebelum lemparanku mengenai sasaran kakekku seger mendekap dan memasukkanku kadalam bak kamar mandi. Walau aku dimasukkan kedalam bak kamar mandi tangisku tidak juga berhenti , bahkan semakin menjadi jadi. Tangisku baru reda ketika kakekku berjanji memasukkan sekolah SD. Tidak tahu bagaimana awal prosesnya , tahu tahu aku bisa masuk sekolah dasar bersama temen temenku yang lulus sekolah TK. Baru aku pahami ketika aku sudah agak besar bahwa statusku masuk SD itu awalnya hanyalah titipan. Kakekku menemui kepala sekolah memohon agar aku bisa diterima di sekolah dasar dan kepala sekolah rupanya menerima dengan syarat bahwa sifatnya hanya titipan dengan catatan apabila aku tidak mampu mengikuti pelajaran aku harus keluar SD kembali TK. Informasi itu aku ketahui dari mbak Endang kakak angkatku. Karena setiap marah menyuruhku belajar selalu disertai cerita ihwal masuknya aku ke sekolah SD supaya aku takut kembali ke TK hingga mau rajin belajar. “ kalau kamu nggak mau belajar kamu akan di kembalikan ke TK kembali “ hardiknya setiap kali aku membandel tidak belajar. Sejak kecil aku di rawat dan di asuh kakek dan nenekku walaupun ayah dan ibu kandungku masih ada. aku adalah laki laki biasa yag terlahir dari keluarga biasa,orang tuaku memberi nama Rachmad Budiri. orang orang kampung, kenalan dan teman temanku memanggil Budiri. aku dibesarkan di sebuah desa diatas bukit bebatuan bernama Sumbermanjing wt (orang orang menyingkat dengan Sumawe). Ayahku bernama Rawuh dan Ibuku adalah Hari Rahayu. Sebuah nama yang sangat indah menurutku. Dua nama yang tidak umum di miliki orang orang desa. Rawuh memiliki arti Datang dan Hari Rahayu artinya selamat, tentram, indah dan bahagia. aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara adikku bernama Ivit Swandiri dan yang bungsu bernama Erwin Sulistianto. berbeda dengan adik adikku yg sejak kecil hingga besar tinggal bersama orang tuaku sedangkan aku sejak kecil hidup dibesarkan oleh kakek dan nenekku. kakekku bernama Abdul Gafur dan nenekku bernama Sadimah. namun begitu aku sungguh bersyukur pada Tuhan bahwa aku terlahir dari orang tua yang sangat luar biasa menyayangi aku dan sungguh aku juga sangat berterimakasih kepada kakek nenekku yang membesarkan aku. Keunikan nama orang tuaku tidak selalu hanya memberikan kebanggaan tapi terkadang membuatku sedih terutama ketika menjadi bahan bully oleh teman temanku. Karena nama ayahku sering di jadikan hiasan di atas alas kaki (keset di atasnya selalu tertulis sugeng rawuh atau selamat datang) dan apabila ada hajat perkawinan selalu ada tulisan “sugeng rawuh” mungkin yang membuat temen temenku terpancing menjadikan bahan ejekan kepadaku. “minggir minggirrrrrrrrrr.....onok anake keset liwatttt “ teriak Hadi salah satu teman kakak kelas 4 yang memiliki postur sangat tinggi, disambut gelak tawa teman temanku. Bayangkan. Bagaimana perasaanku menghadapi mereka.apa karena postur badanku yang paling kecil? Aku sendiri tidak tahu kenapa mereka senang sekali menjadikanku bulan bulanan. Postur tubuhku memang paling kecil dibanding teman teman satu sekolah sementara Hadi memiliki tubuh bongsor yang tingginya hampir setinggi orang dewasa. Melihat perbandingan postur yang sangat berbeda itu ternyata tidak membuat nyaliku mundur untuk melawan. Hatiku yang terbakar marah malah mendorongku untuk melawan. Segala daya kekuatanku aku keluarkan bak pendekar yang mengumpulkan tenaga dalam seperti film film laga lalu ku serang dengan pukulan beruntun kearahnya. namun sayang semua pukulan yang bertubi tubi itu tidak satupun mencapai sasaran. Bagaimana bisa sampai sasaran kalau hanya dengan mengulurkan tangan saja , dia bisa menahan kepalaku tidak berkutik. Ketika tangannya menjulur menahan kepalaku....pinggulnya bergoyang goyang seakan mengejek pukulanku yang mengenai angin...sementara sorak sorai teman teman mengejek dan mentertawai aku. “waktu SD, mbak. Budi ini walaupun badanya paling kecil, tapi sering kali berantem dengan anak anak yang lebih besar” kata tolip sambil tertawa membuyarkan lamunanku akan masa kecil. “hahahaaaaa... iya betul... tapi bukan aku yang memulai lhooo....tapi karena mereka selalu membully aku dengan mengolok olok nama bapakku hehehhee.... jelas aku gak bisa terima dong...meskipun badanya besar aku lawan kalau aku kalah ya nangis hehehehee....tapi kalau aku pulang mengadu pada kakekku sambil menangis, bukannya di bela tapi malah justru di gebuki hehehee . karena kakekku tidak senang aku berkelahi hehehehe” jawabku sambil tertawa . kami pun semakin larut ke dalam perbicangan. Gambaran seluruh masa kecil seakan mengalir membawa kami pada pusaran masa lalu. Perkelahian hampir menjadi sarapanku tiap hari. Dengan sumber perkara yang sama yaitu nama orang tuaku yang dijadikan bahan ejekan. Dan hampir setiap hari pula menangis karena mengalami ketidak berdayaan atas kekalahan. Pernah suatu ketika aku bertanya kepada bapakku, “kenapa sih yah, temen temen selalu mengolok olok nama Ayah” “ karena nama ayahmu unik, le” jawab ayahku bukan marah malah tersenyum.”kenapa nggak diganti saja yah? Aku selalu di olok olok temanku, dan aku selalu nggak terima ketika nama ayah di buat ejekan hingga selalu berkelahi”kataku merajuk ayah tersenyum mendengar keluhanku" le..kamu lihat ini apa" tanya ayah sambil tangannya menunjuk tanah di halaman rumah."tanah, yah" kataku diliput keheranan. " nah ..mungkinkah tanah itu menjadi tanah kalau di sebut emas?dan mungkinkah tanah bisa berubah menjadi emas?" "ya tidak mungkin yah" kataku semakin heran mencari arah dan maksud jawaban ayah. " tanah itu kalau di biarkan selamanya akan tetap menjadi tanah. tapi tanah itu memiliki keistimewaan meskipun tiap hari di injak, diludahai bahkan disiram dengan kotoran sekalipun tanah tidak pernah marah. bahkan memberi kesuburan pada semuanya...jadi segala ejekan,hinaan dan segala makian tidak perlu kamu jadikan amarah yang justru merugikan kamu , le ...jadikan semuanya itu menjadi energi untuk menjadikan kamu belajar untuk menjadi yang terbaik. jadilah tanah yang bisa memberi kebaikan orang orang yang menginjakknya. dan tanah akan bisa menjadi emas manakala di olah sedemikian rupa lalu hasilnya bisa di buat untuk membeli emas"aku tercenung mencerna semua yang ayah katakan. entah pada saat itu aku bisa memahami sepenuhnya atau tidak atas makna yang terkandung dari ucapan ayah (karena usiaku yang masih kecil), tapi yang aku mengerti hanya tidak ada untungnya membalas hinaan dengan kekerasan Perlakuan temen temenku mulai berubah sejak aku mulai tidak menghiraukan ejekan mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka tidak lagi membully aku lagi. Mungkin karena bosan atau capek karena tidak aku hiraukan . yang jelas aku merasa berterimakasih kepada ayahku yang menyarankan untuk tidak melawan segala hinaan dengan kekerasan. Belajar tari Remo Hari harikupun berubah menjadi indah sejak saat itu. “eling nggak kamu, Bud? Waktu kecil kalau habis tampil nari Remo kumis dan alis riasanmu ngak kamu hapus berhari hari. Jadi saat sekolah, bekas riasannya saat tampil itu, mbak. masih belum dihapus hingga jadi tertawaan teman teman...heheheee” Aku tidak bisa menahan tawa saat mengingat kelucuan itu “hahahahahaa...ya ingat. Sebetulnya bukan karena aku lupa menghapus make up hehehee, tapi memang karena saking bangganya habis tampil di panggung aku ingin mempertahankan kumis dan alis hehehehee” Kemudan dari mulut kami obrolan pun mengalir seakan membawa larut perjalanan kami menuju masa lalu. Saat itu ketika bu Winarsih guru kelasku membacakan pengumuman . siapa diantara murid murid yang berminat untuk belajar menari agar mendaftarkan diri karena ada guru baru dari kota yang akan mengajar nari. Dengan semangat aku angkat jari telunjukku tinggi tinggi. Aku sangat senang sekali ketika namaku ditulis dalam daftar anak anak yang akan belajar nari. Anganku melayang mengembara keatas awan . kekaguman awalku akan keindahan karya seni adalah ketika melihat sebuah pertunjukan musik dangdut di depan rumahku, ketika itu aku kelas 3 sd dan aku masih ingat waktu itu adalah hari pernikahan mbak Sri dan mas Nono putri kesayang mbah Danang adik dari kakekku. Untuk meryakan pernikahan putri tercintanya, mbah Danang sengaja menanggap grup orkeas melayu satu satunya yang di miliki desaku.saat itu usiaku antara 7 th. Naluri gerak yang ada dalam tubuhku seakan terdorong keluar begitu mendengar alunan musik di bunyikan. badanku seperti tergerak untuk berjoget dan tanpa malu malu aku naik panggung untuk turut berjoget. Penonton yang kebanyakan orang dewasa bersorak sorak melihatku. namun sayang ditengah keasyikanku berjoget tiba tiba ada seseorang yang menjewer telingaku. ternyata kakekku. aku dijewer supaya berhenti berjoget dan disuruh pulang untuk tidur karena sudah malam. Terpaksa aku pun harus pulang dan tidur. Dalam tidur pikiranku melayang layang mengembara, menembus batas angan. Diatas mega mega anganku, aku seakan menari dihadapan ribuan penonton yang menyemut memadati colosium pikiranku. dan tepuk tangan yang membahana menggelora di gendang telinga asaku yang membuat aku semakin semangat berjingkrak memenuhi hasrat irama untuk menari. aku baru tersadar bahwa semua itu hanya dalam mimpi, manakala aku terbangun dari tidur. “bud...katanya latihan menari ..sana cepat mandi” hardik mbak endang mengingatkanku “lho sekarang hari apa mbak?” “hari minggu” jawabnya membuat aku meloncat dari tempat tidur lalu segera mandi. Aku pun bersiap siap untuk berangkat ke sekolahan. Tidak seperti biasa kalau berangkat kesekolah, hatiku selalu di hadapkan keraguan dan ketakutan akan di bully teman temanku. Tapi hari ini hatiku benar benar mantab dan semangat seakan siap menerjang semua halangan dan rintangan yang menghadang. Dari 8 anak yang ikut nari hanya dua yang laki laki yaitu aku dan sulisdiono. Lainnya perempuan semua. Guru tariku bernama P Sugeng orang nya telaten saat mengajari. Tarian pertama yang diajarkan padaku adalah tari remo. Dengan penuh semangat semua langkah dan gerakan guru aku tirukan dengan teliti. Hari minggu adalah hari yang sangat istimewa bagiku. Karena di hari itu merupakan jadwal rutin latihan menari. Sejak saat itu tak satupun minggu aku lewatkan tidak ikut latihan. Meskipun hujan atau dalam keadaan tidak sehat sekalipun, aku selalu hadir terdepan. Hingga suatu saat p Sugeng mengumumkan akan dipilih 4 anak yang terbaik untuk tampil mewakili sekolah pada suatu acara di kantor desa. Hatiku berdebar berharap menjadi satu diantara anak yang terpilih. Betapa senangnya bisa tampil menari dihadapan penonton. Apa lagi dihadapan kepala desa dan pejabat pemerintah desa yang lain. “empat anak yang akan mewakili sekolah adalah 1. Tantin, 2. sulisdiono, 3. Mamik indarini dan 4. Budiri” kata p Sugeng. Senang tiada kepalang begitu tahu namaku termasuk yang disebutkan. Hatiku berbunga bunga. Ingin sekali segera mengabarkan pada orang orang di rumah bahwa aku terpilih tampil nari di acara kantor desa. Usai latihan aku segera buru buru pulang. Ayunan langkah aku percepat agar segera sampai rumah. “mbok ojo cepet cepet bud” kata mbak mamik yang berusaha menyamakan langkah mengiringi langkahku “aku nggak sabar pengen segera sampai rumah, mbak.” Kataku sambil berlari. Jarak sekolahan dari rumahku kurang lebih 1 km . untuk menuj kesekolah musti melewati pasar desa baru setengah kilo meter kemudian sampek sekolahan. Karena perjalanan menuju pulang harus melewati pasar maka yang mendapatkan kabar gembira pertama adalah nenek, ayah dan ibu kandungku. Begitu sampai pasar langkahku aku percepat agar sampai di depan toko nenekku. Dari jauh aku berteriak teriak memanggil nenekku “ maaaakkkkkkkkkkk.....maaaakkkkk” teriakku memanggil nenekku. Sajak bayi aku dibiasakan memanggil kakek dan nenekku dengan panggilan bapak dan emak. “ada apa ...ada apa” tanya enekku tergopoh gopoh. “aku terpilih menari mewakili sekolahan tampil di kantor desa mak” jawabku tak bisa menyembunyikan kegirangan.”oalaaaa le tak pikir ono opo, koyok ono kobongan ae le..” kata nenekku sambil tersenyum . Rupanya apa yang aku sampaikan pada emak menarik minat bu Jauri pemilik toko yang berada persis depan toko emak “sulis terpilih nggak le...sulis terpilih apa tidak le” tanya nya. Sulis yang dimaksud adalah sulisdiono temenku yang juga ikut belajar menari bersamaku. Kebetulan sulis adalah cucu kesayangannya. ”sulis juga terpilih bude” jawabku membuat hatinya senang. “aku mau cerita ke mak hari sama bapak awuh, ya mak”kataku tanpa menunggu jawaban seraya lari menelusuri kios menuju toko mak hari dan bapak awuh orang tua kandungku. Ke dua Nenek dan orang tuaku, juga mbakku endang kebetulan sama sama membuka toko berjualan di pasar itu. Dari kejahuan tampak kedua orang tuaku sedang melayani pembeli. Berbeda dengan nenekku yang berjualan sembako sementara ayah dan ibuku berjualan pecah belah. Kalau pulang sekolah aku lebih krasan berlama lama di rombong ayah dan ibuku dari pada di toko nenekku karena di bawah meja dagangan ada ruang kosong yang bisa di buat istirahat. Sementara di toko nenek semua sudut ruang penuh berisi dagangan. “lhooo ono anak ngganteng teko bapakne ” kata ibuku menyambut kedatanganku. “mak..juga bapak, tgl 21 lusa habis maghrib harus datang ke kantor desa” kataku “ada apa kok harus datang le?” “ada pertunjukan hebat. Yang tampil seorang artis besar mak” “Siapa artisnya” tanya emak penasaran. “anake kang Rawuh ambek yu Hari mak hehehee” semua tergelak saat aku menyebut ayah dan ibuku dengan sebutan kang. “mosok leeee” “iya mak, aku terpilih tampil menari di kantor desa mak” raut muka senang dan bangga tampak sekali tersirat di wajah orang tuaku. Waktu seakan lamban bergerak. Penantian datangnya hari istimewa seakan tidak seiring perputaran roda mesin waktu yang berjalan. Detik detik berjalan menuju menit bagaikan langkah menua menuju penantian. Malam ini mataku sulit aku pejamkan. Kasur empuk yang tadi siang di jemur tidak membuatku terasa nyaman. Miring kekanan tidak enak dan miring kekiri pun badanku tidak nyaman. Berkali kali mataku seolah ditarik untuk menatap kalender yang bertengger di balik pintu kamarku. Angka 21 yang aku lingkari spidol merah seolah menari nari di pelupuk mata. Besok adalah hari yang aku nanti. Satu persatu temanku selesai di rias. Tampak terjadi perubahan yang sangat drastis terhadap penampilan teman temanku. Teman temanku tampak menjadi gagah dengan kumis bertengger dan jambang di wajahnya. Hatiku menjadi tidak sabar menunggu giliran untuk di make up. Rasa senang tak bisa aku sembunyikan saat tiba giliranku di rias. Bedak dasar mulai di poleskan. “waktu gedek nanti jangan terlalu berlebihan, bud “ kata p Sugeng saat merias sambil mengarahkan aku supaya tidak mengulang kesalahan waktu latihan. Saat latihan sehari sebelum tampil kemarin aku mendapat teguran karena gerakan gedekku powernya berlebihan. Mungkin saking semangatnya aku tidak menyadari kalau powerku berlebihan sehingga gerakanku tidak sama dengan teman teman. Sekali aku di peringatkan tapi beberapa kali aku tanpa sadar mengulang kesalahan yang sama hingga memancing kemarahan guru tariku. Dan aku pun lalu mengurangi power supaya tidak berlebihan. “nah sudah...sekarang pakai kostum” kata pak sugeng sambil merapikan alat riasnya. Apa yang aku pikirkan pertama saat usai di rias? Adalah mencari cermin untuk melihat penampilanku. Saat kudapati diriku di depan cermin penampilanku benar benar berubah. Apa yang aku lihat benar benar lain. Tidak kutemui budiri yang selama ini selalu kulihat dalam cermin. Yang kulihat aalah laki laki dewasa yang sang gagah dan garang penuh karisma dengan kumis indah menghiasi bibirku dan jambang terukir di pipi. “ayooo ndang ganti kostum....ojo ngoco ae ...koco iku ngko iso pecah lihat wajahmu” teriak sulis mengagetkan lamunanku. Aku melungo melihat penampilan sulis setelah memakai kostum tari. Banar banar berbeda. Segera aku berganti kostum. “setelah selesai acara pidato ini giliran kalian tampil. Segera bersiap siap” kata p sugeng memberi pengarahan. Selesai berganti kostum aku tidak lagi sempat melihat penampilanku di cermin. Pidato selesai bersamaan dengan gongseng aku pasang aku pasang di kaki. “hadirin para penonton sekalian, mari kita sambut dengan meriah penampilan siswa siswi SDN 1 sumber manjing.. Tari Remo” suara MC membuka penampilanku. Musik gendingpun mengalun di ikuti suara tepuk tangan penonton. Suara gendang yang menghentak menggarakkan kakiku melangkah beriringan mengikuti irama menuju ke tengah panggung. Tanpa di komando semua penonton serempak bertepuk tangan. Sambil menari pandanganku menyapu seluruh penonton yang hadir. Pak lurah tampak tersenyum sambi mengangguk angguk. Semangatku semakin menjadi manakala melihat sesosok bayangan di deretan paling belakang. Ibuku tampak berjinjit jinjit sambil mengangkat kedua tangan seakan memberiku dorongan semangat. Di sepanjang tarianku aku melihat wajah wajah yang sangat bahagia terpancar dari penonton. Tepuk tangan berkali kali muncul saat momen gerakan yang di iringi gendang yang menghentak. Hingga saat tampilanku selesai penonton memberi tepuk tangan yang sangat meriah. Usai tampil aku banyak sekali mendapat pujian. Saat turun panggung orang orang dewasa banyak yang mengelus ngelus kepalaku seraya berkata “apik, lee” “top...” “ampuh gerakanmu, le” dan banyak lagi puji pujian yang ditujukan kepadaku. Namun , tidak demikian dengan p Sugeng pelatihku. Ekspresi wajahnya tidak menampakkan senang apa lagi kagum atas penampilanku justru guratan kecewa yang di berikan kepadaku. ucapan selamat dan kekaguman hanya diberikan kepada ke 3 temen temenku. Entah kenapa waktu itu tidak berusaha minta penjelasan, apa yang salah dalam tarianku .Mungkin karena usiaku yang masih kecil hingga tidak bisa merasakan apa kesalahan yang telah aku perbuat saat menari atau karena puji pujian yang berlebihan hingga membuatku berpikir bahwa kesalahan tampilanku tidak terlalu penting untuk dipikirkan. Dikamar ganti. Usai melepas kostum tari ibuku masuk menemuiku. “apik, le ...narimu..orang orang semua senang” kata ibuku nyerocos memberikan pujian sambil membantu melipati kostum. Aku melirik pak sugeng yang sedang sibuk memasukkan kostum kedalam tas besar. Bersamaan dengan itu ibuku melangkah menuju pak sugeng. “pak sugeng...matur suwun atas didikannya kepada budi hingga budi jadi bisa menari” “oh inggih bu. Sami sami “ jawab pak sugeng dengan ceriah. Di wajahnya aku tidak menangkap sedikitpun kekecewaan. Begitupun saat aku berpamitan aku tidak melihat ekspresi kekecewaan yang sama ketika aku turun panggung. Dalam perjalanan pulang. Ibu menggandengku dengan tak henti hentikmya membicarakan penampilanku. sepanjang jalan ibu berkali kali memanggil orang orang yang menyalip kami dalam seperjalanan pulang, sambil memamerkan aku kepada orang orang. “kang parto ...piye penampilane anakku mau kang?” Sambil menoleh laki laki tua yang di panggil kang parto itu menoleh seraya membua senyuman yang leber ketika matanya menatap wajahku “ wowww iki budiri sing mau nari? Ohhh anakmu to yu? Luar biasa yu anakmu koyok artis top” kata nya sambil mengelus kepalaku. “waduh lek anakmu, har ....joged e jan manteb tenan” sahut b ginem sambil berjalan menyelip langkah kami. “gedeg anmu le, jan manteb pol” katanya serya menunjukkan jempol kepadaku. Hatiku berbunga bunga segala yang tampak di mataku benar benar berubah menjadi indah. Jalan desa yang gelap karena belum diterangi listrik tiba tiba seakan berwarna penuh wara manakala di terangi kerlip obor yang di bawa para pejalan kaki. Sayup sayup musik yang di putar di kantor desa terbawa angin melantun merdu mengiring langkahku menuju rumah hingga tanpa terasa telah tiba di depan pintu rumah nenekku. Nenekku membuka pintu sambil merekah senyuman menyambut kedatanganku. “waduh mak, budiri jan apik narine mak” lapor ibukku kepada nenek. Nenek menyambutnya dengan senang. “kamu gak makan makan dulu ta, har..iko lho aku ndik pawon ono blendrang ambek ndok” kata nenekku berusaha menahan ibukku yang ingin pamit segera pulang. “nggak mak. Isik wareg mau sebelum berangkat aku makan dulu di rumah” kata ibuku sambil pamit. Setelah ibuku pulang. Nenek menyuruhku menghapus make up ku terus tidur. “jangan nek, emannnn ...besok ae tak hapus” kataku. “ya sudah segera tidur sana” Pertemuanku dengan sahabat kecil ini betul betul membuatku senang tiada ternilai. Otakku bagaikan hardwere yang lama tidak direfres seperti di refres kembali hingga memudahkan membuka semua file memori yang lama tidak di buka. Seandainya waktu memungkinkan. Ingin rasanya kami berlama lama agar semua perjalanan masa lalu bisa kembali terpapar. Namun langkah anganku menyusuri lorong waktu harus terhenti manakala Tolib dan pipit beranjak dari tempat duduk untuk kemudian pamit meninggalkan kami. ...........................................................................................................................

Komentar